PONARI dan ARSITEKTUR

PONARI (10 tahun) dukun cilik asal Jombang Jawa Timur, sekarang ini memang sangat fenomenal. Kabarnya, dengan `batu geledeknya` sudah banyak orang disembuhkan, bahkan dalam sebuah siaran TV terlihat sampai belasan ribu orang mengantri untuk mendapatkan kesembuhan.

Dengan mencelupkan `batu geledeknya` ke dalam air, maka segala penyakit yang kita derita akan disembuhkan. Tindakan mencelupkan `batu geledek` ke dalam air dilakukan secara berulang (baik secara sadar atau tidak sadar) telah menjadi sebuah ciri bagaimana Ponari bekerja.

Sebuah pertanyaan muncul: apakah cara kerja atau tindakan mencelupkan `batu geledek` ke dalam air secara berulang-ulang (repetisi), memiliki kesamaan kerja ketika kita melakukan pekerjaan mendesain (baca: arsitektur)? Atau, pertanyaan ini dapat dilanjutkan dengan sebuah topik: MENDESAIN, Sebuah Tindakan Membuat Perbedaan atau Sebuah Repetisi.

Ulasan:
Apa yang dilakukan oleh Ponari–dukun cilik asal Jombang, dengan terus secara berulang-ulang mencelupkan `batu geledek` ke dalam air, jelas merupakan sebuah tindakan repetisi. Lalu di manakah letak perbedaan dengan (cara kerja) arsitektur?

1. Tindakan yang dilakukan Ponari berbeda dengan Arsitektur karena:
Mendesain (tindakan berarsitektur) adalah sebuah nilai kebaruan atau dengan kata lain Kemajuan dalam Arsitektur hanya dapat diperoleh melalui kebaruan. Beberapa pendapat yang menarik tentang wacana desain sebagai harus mencari kebaruan dan perbedaan-perbedaan, misalnya J.B. Reswick mengungkapkan, “Desain adalah sebuah kegiatan kreatif yang melibatkan penciptaan sesuatu yang baru dan berguna yang tidak ada sebelumnya.” Chistopher Jones mencoba menegaskan bahwa esensi kerja desain adalah sebuah usaha untuk memrakarsai perubahan pada benda-benda ciptaan manusia. Yasraf A Piliang menegaskan bahwa desain sebagai kegiatan kreatif, yang melibatkan penciptaan sesuatu yang baru dan berguna yang tidak ada sebelumnya, harus ditinjau ulang, karena mitos kebaruan itu sendiri. Yasraf coba meminjam Deleuze yang menggambarkan bahwa “desain tidak menyalin masa lalu, tetapi merepetisi untuk mengubahnya atau dengan kata lain bahwa mendesain adalah aktifitas merepetisi dalam rangka mengubah, untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda”.
Ponari tidak melakukan atau pun menghasilkan nilai kebaruan, yang dilakukan hanyalah sebuah usaha yang bernuansa `messianistik` (menurut Sindhunata sebagai kerinduan manusia akan penyelamatan). Ponari membangun citra pengulangan atas pengulangan. Di lain sisi, arsitektur tentunya harus berusaha menghasilkan kebaruan (walau pun terkadang harus melakukan pengulangan), dan dalam padangan yang sepadan, arsitektur harus mengandung nilai `messianistik` terhadap pendekatan kemanusiaan yang transedental, utuh, dan memenuhi harapan masyarakat.

2. Tindakan yang dilakukan Ponari berbeda dengan arsitektur karena:
Desain (tindakan berarsitektur) sebagai sebuah aktifitas mental yang berkaitan dengan membawakan ide menjadi sebuah realitas. Pendapat ini telah didefinisikan oleh berbagai teoritikus, misalnya Asimow menyatakan bahwa desain sebagai sebuah keputusan tentang sebuah kondisi yang tidak menentu dengan tingkat penalti kesalahan yang tinggi. Booker mengungkapkan bahwa desain adalah sebuah hasil stimulasi akhir yang dirasakan cocok setelah kita melakukan beberapa kali percobaan. Gregory menggambarkan bahwa desain sebagai sebuah produk yang memberikan rasa nyaman. Kelihatannya mendesain bukan hanyalah sebuah usaha untuk menghasilkan benda melalui penerjemahan ide, walau terkadang ada nilai kesalahan di dalamnya. tetapi benda yang dihasilkan itu harus dapat memberikan nilai tambah bagi para pemakainya. Ini tentunya juga berlaku bagi produk arsitektur, yang harus mampu memanifestasikan kegunaan dan kenyamanan bagi para pemakainya.
Ponari memang dianggap akan memberikan kenyamanan (baca kesembuhan) dan (mungkin) kegunaan kepada sebagian masyarakat, tetapi apa yang dilakukan jauh dari hal yang mengandung pencerahan rasionalitas. Sebaliknya, arsitektur adalah sebuah dunia yang penuh dengan dialog tentang rasionalitas–tentang akal sehat dan kesadaran diri. Pada titik ini, arsitektur juga dituntut untuk lebih `menginjak bumi` melalui ide-ide yang diharapkan akan memberikan kegunaan pada masyarakat.

3. Tindakan yang dilakukan Ponari berbeda dengan arsitektur karena:
Yasraf A. Piliang percaya bahwa sebuah desain dihasilkan tidak berdasarkan nalar umum (alasan umum), melainkan oleh logika atau nalar, yang melaluinya beberapa pertimbangan dan kriteria disusun untuk mencapai sebuah tujuan rasional, di dalam pelbagai kendala dan hambatan yang dihadapi. Dengan perkataan lain, desain dibangun oleh sebuah logos (kebenaran tertinggi yang merupakan sumber segala kebenaran), yang melaluinya dapat dihasilkan sebuah objek yang memenuhi pelbagai persyaratan objektif dan logis. Argumentasi dari Yasraf A. Piliang ini sejalan dengan Buchanan yang mengungkapkan bahwa logos (kebenaran atas kebenaran) sebagai salah satu aspek penting dari pendapat atau wacana desain, yang melaluinya dibangun logika desain.
Ponari telah membangun citra atas alasan umum, alasan tentang kesembuhan dalam kondisi keprihatinan sosial. Arsitektur berbeda, ada logika analisis yang dilalui untuk mencapai `kebenaran`, di sini, arsitektur akan menjadi lengkap apabila fenomena sosial (yang selalu dilupakan) turut ditempatkan untuk mencapai `kebenaran` tersebut.

Cerita tentang Ponari mendorong kita untuk berhenti sejenak–bercermin dan jeda sesaat, untuk bertanya: sudahkah kita menghasilkan arsitektur yang memiliki nilai kebaruan–memberikan kegunaan serta kebenaran atas dasar logika dan nalar?

Bila jawabannya belum … mari kita mencarinya.

Everything is architecture
Agustinus Sutanto

* (Dikutip dari milis Ilumarta – posted on 22 February 2009)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *