THE BEGINNING

Ulasan film MY ARCHITECT – Louis I Kahn
oleh Prof. Gunawan Tjahjono yang telah diintepretasi ulang oleh saya.

Louis I Kahn mendefinisikan arsitektur sebagai “the thoughtful of making space”. Pengertian ini menurut Pak Gunawan sebagai sebuah upaya untuk menghadirkan (objek) arsitektur melalui perasaan dan pemikiran. “Feeling” dan “thought” menjadi kata kunci dalam karya-karya Kahn.

Sebuah pertanyaan muncul: apa yang dimaksud dengan “feeling” dan “thought” sebenarnya? Di sini, Pak Gunawan memilih kata “penghayatan” untuk menjembatani kata “feeling” dan “thought”. Penghayatan seperti apa yang dimaksud di sini? Penghayatan tentang “THE BEGINNING”. The beginning bukanlah sebuah sejarah, tetapi The Beginning adalah sebuah pencarian asal usul – titik permulaan dari sebuah kondisi. Mencari esensi asal dari sebuah keadaan, sebelum menentukan keputusan. Menurut Pak Gunawan sebuah keputusan tentang mendesain adalah sebuah keputusan tentang The Beginning.

Menurut Pak Gunawan (yang meminjam pandangan Kahn), sebuah sekolah bukanlah hanya sekumpulam kelas-kelas yang membentuk konfigurasi keruangan. Sebuah sekolah adalah tentang `the beginning of dialogue`. Pak Gunawan memberikan contoh: Di bawah pohon yang rindang, terjadinya dialog antara seorang (si A) yang memiliki banyak informasi (dianggap sebagai orang yang lebih pintar) dengan seseorang (si B) yang ingin mendapat informasi. Dan kemudian si B memanggil si C,D,E,F, dll-nya untuk mendengarkan informasi dari si A yang dianggap lebih pandai. Dialog di bawah pohon yang terjadi adalah `The Beginning-nya sebuah kelas`. Di sini Kahn melihat bahwa sebagai seorang arsitek kita perlu memiliki kedalaman `penghayatan` tentang The Beginning (baca : sebagai proses mencari kebenaran), sebelum menghasilkan sebuah obyek yang kita namakan arsitektur.

Pak Gunawan melanjutkan bahwa, “What things want to be” adalah sebuah cara yang telah dipilih Kahn untuk menghasilkan arsitekturnya. Ketika sebuah benda dihadirkan, tentunya kita perlu mempertanyakan bagaimana dan sebagai apa ia ingin dihadirkan. Seperti inilah gambarannya:

“To express is to drive.
And when you want to give something presence,
you have to consult nature.
And there is where Design comes in.
And if you think of Brick, for instance,
and you say to Brick,
“What do you want Brick?”
And Brick says to you
“I like an Arch.”
And if you say to Brick
“Look, arches are expensive,
and I can use a concrete lentil over you.
What do you think of that?”
“Brick?”
Brick says:
“… I like an Arch”

Pada akhirnya, melalui ulasannya dalam film: My Architect – Louis I Kahn, Pak Gunawan mengajak kita semua untuk lebih menempatkan kedalaman berpikir (dalam hal ini tentunya adalah mencari The Beginning dan mempertanyakan tentang sebuah kehadiran) untuk mencapai seperti apa yang Kahn katakan: “Architecture is the reaching out for the truth.”

Sekian catatan saya ketika hadir menoton My Architect – Louis I Kahn pada hari Jumat – 30 Januari di Untar. Semoga berguna.

Everything is architecture
Agustinus Sutanto

* Pemutaran “MY ARCHITECT” (Louis I Khan) diselenggarakan pada 30 Januari 2009, pk: 17.30-21.00 WIB, bertempat di Lt. 3 Ruang Auditorium Gedung Baru UNTAR, dengan pembahas : PROF. IR. GUNAWAN TJAHJONO, M.ARCH. Ph.D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *